KARAWANG- Mahasiswa Baru FISIP Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) Kelompok Singasari menggelar aksi Sosial di Halaman Elektronik Center, Jl. Tuparev, Nagari, Karawang Barat, Karawang, Jawa Barat, Rabu, (13/9/2023).
Aksi Sosial mahasiswa tersebut dilatarbelakangi adanya keresahan akan terjadinya kemiskinan extream karawang, yang tak kunjung terselesaikan.
“Melihat Kemiskinan Extream yang terjadi di Karawang, kami sebagai mahasiswa sangat resah akan hal tersebut, banyak anak-anak jalanan yang putus pendidikan hanya karena tidak bisa membiayai pendidikan mereka, tidak hadirnya pemerintah dalam hal tersebut membuat saya dan adik-adik mahasiswa tergerak melakukan aksi sosial pendidikan di jalanan, apa yang kami lakukan semata mata adalah kepedulian kami terhadap masyarakat karawang. Kami pun mengucapkan terimakasih terhadap semua pihak yang telah membantu kegiatan kami hingga berjalan lancar. Semoga apa yang kami lakukan dapat bermanfaat dan membuat pemerintah sadar bahwa masih banyak masyarakat membutuhkan uluran tangan pemerintah,” ujar Tri Prasetio Putra Mumpuni selaku Kaka pembimbing kelompok Singasari (mentor) .
Ia pun menegaskan, bahwa aksi ini juga mendapat dukungan yang luar biasa dari BEM FISIP Unsika Sebagai penyelenggara PKKMB FISIP 2023
“Harapan saya sih, semoga kegiatan project sosial yang di tugaskan BEM FISIP Unsika bisa terus terselenggara dan dapat menjadi tugas wajib di setiap penerimaan mahasiswa baru,” lanjutnya.
Ia pun sangat mengapresiasi teman-teman jalanan yang masih semangat untuk belajar namun terkendala biaya.
Pada dasarnya banyak sekali berita yang beredar bahwa pemerintah sudah berupaya mengurangi angka putus sekolah namun, masih banyak sekali kita jumpai anak-anak yang justru memilih untuk berjualan di pinggir jalan atas dasar kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Setelah kami teliti, penyebab anak-anak putus sekolah yaitu pada biaya. Biaya merupakan kendala utama sehingga menjadi penghalang untuk para orang tua menyekolahkan anak-anaknya. Banyak sekali beasiswa dari pemerintah yang seharusnya memang sampai kepada orang yang benar-benar membutuhkan tapi malah justru salah sasaran. “Saya berharap kedepannya angka putus sekolah menurun dan anak-anak yang kurang mampu tetap mendapatkan hak nya untuk belajar di sekolah sama dengan anak lainnya” ujar Nabila Alfareza selaku kaka pembimbing kelompok Singhasari (mentor).
Salah satu panitia pelaksana kegiatan juga berpendapat;
“Banyak dari teman-teman jalanan yang masih mempunyai cita-cita tinggi dan tekad untuk melanjutkan pendidikannya hingga ke tingkat pendidikan tinggi (kuliah). Namun, karena kurang nya biaya dan juga bingung apa yang harus dilakukan untuk tetap memenuhi kebutuhan hidupnya, maka banyak dari mereka yang memilih bekerja di jalanan khususnya di daerah lampu merah (meminta minta). Orang tua dari adik-adik pun merasa kesulitan untuk meminta bantuan ke pemerintah karena permintaan mereka pun tak jarang diabaikan dan juga kurang pemahamannya terhadap administrasi (surat menyurat). Terimakasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada seluruh pihak yang telah mendukung event ini baik melalui donasi maupun bimbingan. Karena tanpa adanya dukungan dari teman-teman maupun kakak-kakak, event ini belum tentu akan berjalan baik seperti tadi.” Najla Inayah selaku Ketua Pelaksana.(dmr)






