KARAWANG- Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) memiliki komitmen serius dalam upaya pencegahan dan penurunan kasus stunting. Salah satunya dengan pertemuan replikasi pemodelan pentahelix desa/kelurahan tangkas (tangginas ngarojong kasehatan) di Aula Pemkab Karawang lantai 3.
”Kita tingkatkan terus komitmen kita untuk menekan angka stunting, untuk tahun 2024 Karawang zero stunting,” jelas Sekretaris Dinas Kesehatan Karawang, Yanto, Kamis (21/09/2023).
Dalam kegiatan itu juga dilakukan penandatanganan komitmen replikasi pemodelan pentahelix desa/kelurahan tangkas (tangginas ngarojong kasehatan). Masing-masing Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPSS), Wakil Bupati Karawang diwakilkan Asisten bidang Ekonomi dan Pembangunan, Hanafi, perwakilan dari perguruan tinggi, dunia usaha, Kodim, Polres, kepala desa, Camat hingga masyarakat.
”Komitmen bersama ini diharapkan dalam upaya pencegahan dan penanganan, sehingga ada penurunan stunting yang telah disepakati lintas sektor,” paparnya.
Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Karawang dr Nurmala Hasanah mengungkapkan, dalam penanganan kasus stunting, peran semua pihak sangat penting, baik pemerintah, akademisi, pelaku usaha, maupun media massa. Ia yakin, dengan cara seperti itu, maka kasus stunting bisa segera ditekan.
“Dengan adanya pertemuan ini mempertegas pentahelix (lintas sektor), agar masing-masing pihak bisa bertanggung jawab atas komitmennya melalui tindakan dan kerja nyata,” ujarnya.
Dirinya mengungkapkan, lokasi fokus (lokus) desa replikasi pentahelix tahun 2023 sesuai SK Bupati Karawang ada 16 desa/kelurahan yang tersebar di 7 Kecamatan. Sehingga ia menyampaikan pentingnya konsumsi makanan dengan gizi seimbang serta penerapan pola hidup bersih dan sehat bagi kesehatan remaja.
Dirinya berharap remaja yang kebutuhan gizinya terpenuhi dan menjalankan pola hidup bersih dan sehat diharapkan akan melahirkan anak-anak yang sehat dan bebas dari stunting. “Karena penanganan stunting ini harus menggunakan strategi intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Harus berkolaborasi dengan lintas sektoral,” pungkasnya.(kna)






