Mengolah Tanaman Mangrove Jadi Makanan dan Minuman, Cuan Pun Datang

  • Whatsapp

KARAWANG-

Mengolah Tanaman Mangrove Untuk Makanan dan Minuman

Istri nelayan dari UMKM Gabungan Kelompok Perikanan (Gapokkan) di Pantai Pasir Putih, Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, telah berhasil mengolah tanaman mangrove menjadi berbagai jenis makanan dan minuman.

Salah satunya adalah Umi (70), yang mengolah buah mangrove untuk membuat dodol. Dia menjual dodol mangrove seharga Rp5.000, memberikan pengunjung Pantai Pasir Putih kesempatan untuk menikmati rasa yang unik dan bahan baku mangrove yang murah.

Rasa dodol biasanya manis, tetapi rasanya asem manis. Pada Minggu, 25 Agustus 2024, dia mengatakan, “Karena ini berasal dari buah mangrove.”

Selain dodol, Umi mengolah buah mangrove untuk membuat produk lain yang unik, seperti minuman sari mangrove, sirup mangrove, dan sambal daun mangrove.

Mangrove tidak hanya menawarkan sajian yang unik, tetapi juga memiliki khasiat kesehatan. Umi menjelaskan bahwa mangrove dapat menghilangkan logam berbahaya dari seafood dan bahkan membantu dalam pengobatan kanker.

Keberadaan olahan mangrove ini menarik perhatian pengunjung lokal dan internasional. Pada tanggal 28 Agustus 2024, pengunjung dari Korea dijadwalkan untuk meninjau hutan mangrove, dan Bupati juga akan mengunjungi lokasi tersebut.

Umi mengaku bahwa kesuksesannya dalam bisnis kuliner tidak lepas dari dukungan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Berawal dari berjualan pempek keliling, Umi kini dapat mengembangkan berbagai produk, seperti dodol mangrove, pempek kemasan, kerupuk rajungan, dan kerupuk seafood yang sudah diekspor ke Taiwan, Arab Saudi, Singapura, dan Balikpapan.

PHE ONWJ juga memberikan pelatihan digital dan tablet untuk memasarkan produknya secara online.

Ketua UMKM Gapokkan Pantai Barokah, Iin Inani (43), juga mengalami peningkatan signifikan dalam penghasilannya setelah mendapatkan pelatihan berkala. Dulu, ia hanya menghasilkan sekitar Rp200.000 per hari, tetapi sekarang penghasilannya mencapai Rp2-3 juta per bulan berkat pemasaran di galeri dan online.

Community Development Officer Zona 5, Laras Aprilianti, menjelaskan bahwa pemberdayaan istri nelayan dimulai sejak 2018. Dari awal yang hanya melibatkan 3 orang, kini telah berkembang menjadi 25 orang dengan produk yang sudah merambah luar Karawang.

“Hanya 3 orang yang ikut, yaitu istri-istri nelayan yang belum memiliki kegiatan produktif secara ekonomi. Alhamdulillah sekarang sudah ada 25 orang dengan berbagai macam produk. Perkembangannya sangat baik, bahkan produk mereka sudah ada yang sampai ke luar Karawang,” pungkasnya.(red)

 

  • Whatsapp

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *