KARAWANG– Salah satu rumah sakit (RS) swasta di Kabupaten Karawang berinisial PG dilaporkan ke polisi oleh seorang warga bernama Indah Sari Dewi (28).
Dewi melaporkan RS tersebut karena putri kandungnya yang masih balita berinisial T tidak mendapatkan perlakuan baik meski ditempatkan di ruang Super VIP.
Ia menceritakan kronologinya, pada Senin, (28/4) pagi putrinya mengalami kejang sehingga harus dibawa ke RS terdekat. Saat masuk UGD, anaknya gagal diinfus oleh 3 perawat sekaligus.
Tidak berhenti disitu, saat dirawat Dewi terus merasa resah karena perawat tidak pernah langsung datang ketika dipanggil melalui bell.
“Padahal kita super VIP, aku pencet bel itu lama banget suster datang, bahkan aku nunggu 1 jam, 30 menitan. Saat aku samperin, aku menemukan susternya tidur, saat itu anak aku darahnya sampe udah naik, harusnya suster ngecek terus,” terang Dewi.
Dewi merasa janggal karena meski darah anaknya terus berceceran ke lantai, pihak RS tetap lambat dalam menangani. Bahkan di hari ke 2, anaknya sudah diperbolehkan pulang padahal kondisinya makin memburuk.
Dewi merasa amat kesal dan meminta pihak RS untuk memeriksa kembali kondisi anaknya. Karena di hari kedua, T mengalami diare, tubuh lemas bahkan muntah-muntah dan buang air besar (bab) sehari hingga belasan kali.
“Kita bayar 21 juta lebih, harusnya diperlakukan baiklah. Super VIP aja diberlakukan gini, apalagi BPJS deh,” katanya.
Akhirnya pada Kamis, (1/5) Dewi meminta pihak RS untuk merujuk anaknya ke RS Siloam Cikarang. Namun permintaan Dewi tidak digubris, bahkan ia kembali mendapatkan perlakuan kurang baik.
“Di hari ke 4, aku minta dirujuk, tapi sampe jam 6 aku gak digubris, sampe jam 8 malem aku masih disitu. Bahkan saat minta rujuk, dokternya malah marah-marah,” katanya.
Kekesalannya memuncak lantaran melihat anaknya penuh bekas suntik akibat gagal infus. Ia menghitung, ada 8 perawatan dan 1 dokter bedah yang gagal menginfus anaknya.
“Tusukan total ada 12, anak aku biru-biru, bahkan sampe ada yang bolong karena suntikan. Pas akhirnya bisa pindah ke Siloam, katanya pembuluh darah anak aku udah pada pecah. Di Siloam sekali tusuk langsung berhasil,” katanya.
Dewi sudah melaporkan perkara ini ke kepolisian didampingi oleh kuasa hukum. Ia berharap operasional RS tersebut ditutup sepenuhnya agar tidak kembali memakan korban.
“Karena anak aku bukan fisik aja yang kena, tapi psikisnya juga. Setiap disentuh orang dia sekarang langsung mukul, setiap liat yang baju putih dia merem. Tadinya cerita sekarang jadi introvert,” ungkapnya.
Kepala Kepolisian Resort Karawang, AKBP Fiki N. Ardiansyah melalui Kasi Humas Ipda Solikhin membenarkan telah menerima laporan dugaan kelalaian medis tersebut.
“Kami telah menerima laporan dari Ibu Indah Saridewi terkait dugaan kelalaian medis,” ujar Ipda Solikhin.
Pihak kepolisian saat ini sedang mendalami laporan ini dan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan kebenaran dugaan kelalaian medis yang dilaporkan oleh keluarga korban.
“Kami akan memanggil pihak-pihak terkait, termasuk manajemen RS Permata dan perawat yang bertugas saat kejadian, untuk dimintai keterangan. Kami juga akan mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan agar kasus ini dapat terang benderang,” pungkas Ipda Solikhin,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Endang Suryadi, mengatakan pihaknya juga akan menindaklanjuti laporan ini.
“Kami akan melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap rumah sakit tersebut,” ucapnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Rumah Sakit Permata Keluarga belum memberikan keterangan resmi meski telah dihubungi melalui hotline dan didatangi langsung ke lokasi.
Salah seorang petugas rumah sakit bernama Augustina hanya mengatakan bahwa belum ada arahan untuk memberikan pernyataan. Karena harus membuat janji terlebih dahulu dengan pihak terkait.
Disisi lain, seorang petugas keamanan ketika di tanya bagian humas RS Permata Keluarga yang dituju tim redaksi mengatakan bahwa sedang melakukan rapat di Bekasi.
Kasus ini masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut dari pihak berwenang.(red)






