KARAWANG–Asap tipis mengepul dari wajan besar di sebuah dapur sederhana di Desa Tanjung, Kecamatan Banyusari. Di balik kepulan itu, tangan seorang perempuan paruh baya cekatan membolak-balik adonan kerupuk kencur.
Dialah Jubaedah (50) atau akrab disapa Mak Edah, warga asli Tanjung yang kini menjadi simbol ketangguhan dan kemandirian perempuan desa.
Dari dapur sederhana itu, kisah luar biasa bermula kisah tentang perjuangan, pendidikan, dan energi terbarukan yang menyalakan harapan.
Dari PHK Jadi Penggerak Desa
Tahun 2012 menjadi masa paling berat bagi Mak Edah. Ia kehilangan pekerjaan setelah di-PHK dari pabrik sepatu Starlink. Dengan hanya lulusan kelas 4 SD, ia memutuskan untuk tidak menyerah. Mulai berjualan nasi uduk di depan rumah, hingga akhirnya terjun membuat jajanan kecil untuk bertahan hidup.
“Saya cuma pengen tetap bisa masak, jual, dan hidup jujur. Nggak mau nyerah karena keadaan,” tuturnya pelan.
Pertamina Gas Cilamaya Hadirkan Harapan
Titik balik terjadi pada 2017, ketika Desa Tanjung dan Segaran dinyatakan sebagai desa rentan pangan. Saat itulah Pertamina Gas (Pertagas) Cilamaya hadir membawa program pendampingan masyarakat. Dari hasil survei potensi lokal dan SDM, Mak Edah termasuk warga yang diajak belajar dan diberi pelatihan usaha rumahan.
Lewat kerja sama dengan P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya), ia mengikuti pelatihan hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari sana, ia membawa pulang ilmu baru tentang pengolahan pangan, pengemasan, dan manajemen UMKM.
Hasil dari pembinaan itu melahirkan produk yang kini terkenal di Banyusari yakni Kerupuk Kencur. Awalnya, produk Mak Edah dikenal dengan nama “kerupuk miskin”, karena dibuat dengan alat seadanya. Namun, berkat pelatihan dan semangat yang tak pernah padam, ia mengubah nama menjadi Kerupuk Kencur, simbol perubahan dan harga diri.
“Saya nggak mau orang lihat ini kerupuk orang susah. Saya pengen orang lihat ini hasil kerja keras,” katanya sambil tersenyum.
Dengan bahan sederhana tepung tapioka, kencur, bawang putih, mecin, dan pewarna alami, Mak Edah memproduksi 200 bungkus kerupuk per hari. Satu bungkus dijual Rp5.000, dipasarkan ke Cikampek, Wadas, Banyusari, hingga Pantura Subang.
Produksi dilakukan dari pukul 07.00 hingga 13.00 siang, dibantu suaminya Aziz Risman (65) yang juga pernah terkena PHK.
Dari Desa ke Istana Presiden
Perjalanan Mak Edah mencapai puncaknya pada tahun 2024, ketika Presiden Joko Widodo mengangkat produk Kerupuk Kencur sebagai contoh UMKM kreatif nasional.
Kemasannya yang menarik dan rasanya yang khas membuat gubernur dan menteri perempuan pun ikut mengapresiasi.
“Waktu itu saya sampai gemetar. Kerupuk buatan saya bisa dipegang Pak Jokowi di Istana. Nggak pernah mimpi bisa sampai situ,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Tak hanya usaha kerupuk, berkat bantuan Pertamina Gas Cilamaya pada 2020, Mak Edah juga menerima instalasi panel surya untuk gedung produksinya, PAUD Anugerah, serta gedung serbaguna desa. Kini, seluruh kegiatan dari produksi, mesin rol, kulkas, AC, hingga kolam renang kecil warga ditopang energi matahari.
“Dulu bayar listrik mahal. Sekarang pakai tenaga surya, semua jalan mesin, air, bahkan ruang belajar anak-anak,” katanya bangga.
Tetap Eksis Meski Tanpa Pendampingan
Walau kini binaan Pertamina Gas Cilamaya sudah berakhir, semangat Mak Edah tetap menyala. Dari 13 orang anggota awal kelompok, kini tersisa 8 orang yang masih bertahan. Mereka bekerja tanpa keluhan, mengandalkan tekad dan rasa syukur.
Mak Edah juga mendirikan PAUD Anugerah, tempat belajar gratis bagi anak-anak sekitar. Gaji guru PAUD hanya Rp250 ribu dari pemda, namun bagi Mak Edah, kebahagiaan bukan di angka, melainkan di manfaat.
“Saya ingin anak-anak di sini bisa sekolah tanpa mikir biaya. Kalau hidup bisa bermanfaat, itu rezeki paling besar,” ujarnya lirih.
Warisan Semangat dari Tanjung
Kisah Mak Edah bukan sekadar cerita sukses usaha kecil, tapi potret nyata bagaimana energi, pendidikan, dan semangat perempuan desa bisa mengubah wajah kampung. Dari perempuan yang dulu dianggap “tidak berdaya”, lahirlah sosok yang mampu menggerakkan ekonomi dan memberi cahaya bahkan setelah lampu bantuan padam.
Tedi, perwakilan Pertamina Gas Cilamaya, Desa Tanjung merupakan salah satu desa ring satu pipa gas Pertagas yang sejak 2019 dijadikan lokasi pembinaan. “Kami melihat potensi besar dari warga sini, terutama Mak Edah dan kelompoknya. Kini, mereka bisa mandiri tanpa lagi tergantung pendampingan,” pungkasnya.(red)






