KARAWANG– Ramadan di SMAN 5 Karawang tahun ini menghadirkan suasana yang berbeda. Bukan sekadar tadarus dan kajian rutin, para siswa diajak menyelami ayat-ayat Al-Qur’an tentang lingkungan, dan yang lebih penting, menerjemahkannya dalam aksi nyata menjaga bumi.
Melalui program Pesantren Ekologi, sekolah mengajak siswa memahami bahwa larangan berbuat kerusakan di muka bumi bukan hanya teks yang dibaca, tetapi pesan moral yang relevan dengan kondisi hari ini. Isu sampah, perubahan iklim, hingga bencana ekologis menjadi bagian dari diskusi kelas.
Ketua panitia sekaligus Guru PAI, Dadah Sa’adah, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menghubungkan nilai spiritual dengan tanggung jawab sosial.
“Kami ingin siswa sadar bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari amanah sebagai khalifah di bumi. Ayat Al-Qur’an harus hidup dalam tindakan,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (25/2) pagi tadi.
Setiap pagi, kegiatan diawali dengan salat duha, zikir, dan tadabur ayat. Para siswa kemudian dibagi untuk mengkhatamkan satu juz per hari, dengan masing-masing membaca sekitar 80 ayat. Dari lantunan ayat itulah, kesadaran perlahan tumbuh.
Bagi Keke Nurqolbi, siswsi kelas XI-5, pengalaman ini memberi pemahaman baru.
“Sebenarnya aku sudah tahu dari hadis kalau kebersihan itu sebagian dari iman, tapi belum terlalu mendalami. Di pesantren ini jadi lebih paham kalau menjaga lingkungan juga bagian dari ibadah,” katanya.
Menurutnya, kegiatan tadarus bersama menjadi momen paling berkesan. Namun yang membuat pesantren kali ini terasa berbeda adalah keterkaitannya dengan isu lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Sekarang jadi lebih notice sama sampah kita sendiri. Hal kecil yang sering kita anggap sepele ternyata penting,” ungkapnya.
Tak hanya berdiskusi, siswa juga terlibat dalam aksi kebersihan lingkungan sekolah dan edukasi pengelolaan sampah. Langkah sederhana, tetapi bermakna sebagai bentuk praktik dari nilai yang dipelajari.(red)






